republikindonesia.info/ PELAIHARI – Suasana Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Tanah Laut, Rabu (14/1/2026), terasa berbeda. Di hadapan ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan tenaga pendidik, Bupati Tanah Laut H Rahmat Trianto tidak hanya memberi pengarahan. Ia menyampaikan pesan mendalam tentang makna menjadi seorang guru sebuah profesi yang, menurutnya, tidak bisa dijalani oleh sembarang orang.
Dengan nada tegas namun penuh penghargaan, Rahmat Trianto menegaskan bahwa guru adalah orang-orang pilihan. Bukan hanya soal kecerdasan, tetapi tentang kemampuan menyentuh, membentuk, dan menuntun masa depan generasi muda.
“Ingat, saya selalu sampaikan, menjadi guru itu adalah orang-orang pilihan. Tidak semua orang pintar bisa mentransfer ilmunya kepada orang lain,” ucapnya, disambut perhatian penuh para peserta.
Menurut Bupati, kecerdasan intelektual tanpa kemampuan komunikasi dan kesabaran tidak akan cukup dalam dunia pendidikan. Mengajar, katanya, adalah seni tentang bagaimana menyampaikan ilmu, menanamkan nilai, sekaligus membentuk karakter anak didik sejak dini.
Ia bahkan menyebut para guru dan penyusun kurikulum di Tanah Laut sebagai pemegang kunci masa depan daerah. Apa yang ditanamkan hari ini, akan menentukan wajah Tanah Laut 20 tahun ke depan.
Namun di balik apresiasi tersebut, Rahmat Trianto juga menyampaikan peringatan tegas. Ia meminta para tenaga pendidik untuk menjaga profesionalisme dan tidak terseret dalam pusaran politik praktis yang dapat mengganggu fokus utama sebagai pendidik.
“Bapak dan Ibu harus profesional. Ada hal-hal yang tidak perlu kita ikut, seperti kegiatan politik. Tidak ada manfaatnya. Lebih baik fokus pada anak-anak kita, karena merekalah yang akan memimpin di masa depan,” tegasnya.
Tak berhenti di situ, Bupati juga menyinggung tantangan besar pendidikan di era digital. Ia mendorong para guru agar berani berinovasi dan berimprovisasi, tidak sekadar mengajar secara normatif, tetapi mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman dan karakter generasi saat ini.
Rahmat Trianto berharap setiap sekolah di Tanah Laut memiliki ciri khas dalam pembentukan karakter dan etika peserta didik. Ia menekankan pentingnya menyesuaikan kurikulum nasional dengan kearifan lokal, terutama dengan menyisipkan nilai-nilai agama dan budi pekerti.
“Jangan hanya menerima mentah-mentah kurikulum nasional karena sifatnya umum. Di Tanah Laut, kita harus paksakan masuknya pendidikan akhlak dan budaya agar anak-anak kita punya identitas yang kuat,” pungkasnya.
Bagi Rahmat Trianto, pendidikan bukan hanya sebatas transfer ilmu, melainkan investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi yang berkarakter, beretika, dan siap menghadapi tantangan masa depan dimulai dari tangan-tangan para guru hari ini.